Tuesday, July 16, 2013

Museum Perangko TMII


Museum perangko adalah wahana untuk menyelenggarakan pameran perangko secara tetap yang didirikan atas gagasan Ibu Tien Soeharto. Gagasan itu dicetuskan ketika Ibu Tien mengunjungi pameran perangko yang diadakan oleh PT. Pos Indonesia (Persero) pada acara Jambore Pramuka Asia Pasifik ke VI di Cibubur pada bulan Juni tahun 1981. Kemudian, dibangun museum perangko dengan bentuk bangunan bergaya Bali di atas lahan seluas 9.590 m2 dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 29 September 1983.

Museum ini memamerkan koleksi aneka prangko asal Indonesia dan luar negeri. Pameran-pameran dibagi kedalam enam ruang penyajian. Pameran dalam ruang penyajian I menyajikan berbagai materi, misalnya foto-foto perangko pertama di dunia yang dikenal dengan sebutan Penny Black, Kantor Pos pertama di Batavia, dan lain-lain. Pameran dalam ruang penyajian II menyajikan materi berupa patung seorang perancang perangko, dan lain-lain. Pada ruang penyajian III disajikan sejumlah perangko yang terbit tahun 1864-1950 pada masa pemerintahan Belanda, Jepang, dan perang kemerdekaan. Ruang penyajian IV menyajikan perangko dan souvenir sheet 'carik kenangan' yang diterbitkan sejak tahun 1950. Ruang penyajian V menyajikan perangko bertema sosial, pariwisata, taru dan satwa, lingkungan hidup, dan kemanusiaan. Ruang penyajian VI menyajikan perangko tematik, khususnya kepramukaan dan olahraga.

Kompleks bangunan gedung dihiasi sejumlah ukiran dan patung gaya Bali dan Jawa, dikelilingi pagar tembok dengan dua pintu gerbang yang mengambil model dasar candi Bentar, selain berfungsi sebagai pintu, pagar ini juga menjadi pemisah antara halaman luar dan halaman kompleks bangunan. Di halaman depan terdapat bola dunia dengan burung merpati membawa surat di paruhnya, lambang tugas PT Pos Indonesia (Persero) telah menjangkau seluruh dunia.

Di depan pintu masuk gedung, berdiri patung Hanoman, yang dalam pewayangan dikenal sebagai Dhuta Dharma pembawa berita, misinya sama dengan PT Pos Indonesia (Persero). Di samping kiri dan kanan pintu masuk, ada dua lukisan gaya Bali karya pelukis Drs. Wayan Sutha S yang merupakan cuplikan cerita pewayangan versi Bali, menggambarkan bahwa pada masa sebelum kertas dikenal seperti sekarang, surat-menyurat menggunakan Ron ‘daun’ tal.

Di sayap kanan dan kiri terdapat dua bangunan. Sayap kanan digunakan kantor pengelolaan dan tempat pertemuan, sedangkan sayap kiri untuk kantor pos tambahan yang berfungsi memberikan layanan jasa PT Pos Indonesia (Persero). Museum ini memamerkan koleksi perangko asal Indonesia dan luar negeri. 

Pameran dalam ruang penyajian II menampilkan materi berupa patung seorang perancang perangko, sejumlah slide proses pembuatan perangko dan proses melukis hingga menjadi perangko. Silinder cetak yang digunakan untuk mencetak perangko seri lukis Raden Saleh dan penampang fiber glass mesin cetak perangko lima warna yang digunakan oleh Perum Peruri dilengkapi motor penggerak.

Pada ruang penyajian III terdapat sejumlah perangko yang terbit tahun 1864-1950 pada masa pemerintahan Belanda, Jepang, dan masa perang kemerdekaan, Slide perangko Belanda dan Jepang bertema kebudayaan dan pariwisata, slide perangko peringatan 10 tahun Kemerdekaan RI, dan foto perangko bergambar Bung Karno dan Bung Hatta sebagai latar belakang perangko perjuangan yang dicetak di luar negeri

Ruang penyajian IV menampilkan perangko dan souvenir sheet ‘cari kenangan’ yang diterbitkan sejak tahun 1950 dengan lima masa penerbitan: 1950-1959, tahun 1959-1966, tahun 1966-1973, tahun 1973-1983 dan tahun 1983-1993.

Ruang penyajian V menampilkan perangko yang disusun berdasarkan periode dan tema tertentu. Dalam ruang ini disajikan perangko bertema social, pariwisata, taru dan satwa, lingkungan hidup dan kemanusiaan.

Ruang penyajian VI menampilkan perangko tematik, khususnya Kepramukaan dan olahraga, di dalam beberapa kotak penyajian, termasuk slide Ibu Tien Soeharto dengan seragam Pramuka ketika menandatangani Sampul Hari Pertama Perangko Internasional ke-VI di Cibubur.

0 comments: